Q&A APA BEDA KREATIFITAS DAN INTELIGENSI?
- nancy dinar
- Jun 20, 2024
- 7 min read
with Nancy Dinar
Apa itu kreatiftitas?
Kreatifitas adalah adalah kemampuan untuk berpikir out of the box, menghasilkan ide-ide baru, memikirkan alternative untuk solving problems, kemampuan untuk berkomunikasi atau untuk menghibur orang lain.
Kreativitas juga bisa berarti kemampuan untuk mengubah ide, imajinasi dan mimpi menjadi kenyataan.
Apa ciri-ciri orang kreatif?
Orang kreatif senang mencipta, original, stimulating, funny, bright, insightful. Mereka sangat autonomos. Seringkali dianggap eccentric. Mereka sering menabrak norma dan tidak perduli dengan konsensus. Misalnya anak saya saat kecil, sering memakai payama, ia memakai payama ke mall, ke sekolah bahkan ke pantai. Tentu saja ini dianggap aneh karena menabrak konsensus, tapi dia tidak perduli. Ia berani tampil sebagaimana dirinya tanpa takut ada judgment dari lingkungan.
Yang sering galau adalah parents, kita masih kuatir dengan anggapan orang. Karena anaknya seperti itu, dikira parentsnya tidak mengajar atau mendidik. Itulah sebabnya perlu komunitas parents anak gifted supaya mengerti bahwa mereka tidak sendiri, dan apa yang terjadi pada anak mereka itu dapat dimengerti dalam dimensi kreatifitas mereka.
Apakah creativity itu nurture atau nature?
Sama seperti inteligensi, kepribadian, kreatifitas adalah kombinasi dari dua faktor. Namun jika ditanya mana yang lebih kuat, maka tentu saja faktor biologis. Faktor biologis adalah predisposisi untuk kreatifitas. Lalu apa peran nurture?
Saya beri contoh Picasso, ia lahir dari seorang ayah yg juga pelukis juga yang sangat terkenal. Berarti sudah ada faktor biologis yang kuat mengalir dalam dirinya. Dan sejak masa kanak-kanak ayahnya mengajarinya untuk melukis. Jadi Picasso mendapatkan double benefits, yaitu faktor genetik juga faktor lingkungan.
Lingkungan memungkinkan ia mendapatkan early training, which is very imporant. Selain itu training gratis, diajarkan advanced skills, kebutuhan atau supply utk menjadi kreatif tersedia. Pola seperti ini banyak sekali kita lihat pada highly achiever atau prominent people dalam bidang seni dan olahraga, serta kalangan akademisi, kombinasi antara faktor nature dan nurture yang luar biasa membuat mereka extra ordinary.
Apa jadinya jika ada faktor biologis tapi lingkungan tidak mendukung atau tidak dinurture?
Ya, tentu saja kita tidak bisa berharap pencapaian yang luar biasa, walaupun bisa saja talent itu berkembang later. Misalnya talent seperti thinker dan writer, kebanyakan penulis mashyur itu mencapai puncaknya pada usia antara 50-60 tahun. Tapi extraordinary talent biasanya dikembangkan sejak dini. Talent, baik sebagai penulis atau thinker pasti sudah dicultivate sejak kecil hanya kapan talent itu menjadi achievement atau performance beda ceritanya.
Ada juga fakor-faktor lain sehingga bakat seorang anak tidak berkembang, misalnya kemiskinan, keluarga disfungsional, orangtua bercerai, pendidikan orangtua yang rendah, berada di daerah yang terpecil sehingga akses pendidikan minim. Ini sebabnya meskipun penduduk Indonesia 260 juta tapi banyak orang daerah yang tidak memiliki quality education sama dengan orang kota. Sayang sekali padahal orang gifted ini ada dimana saja.
Dan quality education anak-anak di perkotaan juga masih ketinggalan dengan negara maju lain.
Kemanapun negara yang saya kunjungi pasti saya akan pergi ke pusat pendidikan seperti universitas, itu adalah tujuan wisata utama. Saya ingin menyerap sebanyak mungkin atmosfir yang ada, kemudian bermimpi dan pulang ke tanah air. Goal selanjutnya bagaimana mewujudkan mimpi itu lewat memajukan pendidikan di Indonesia.
Sebaliknya bagaimana jika lingkungan mendukung, tapi tidak ada faktor biologis? Misalnya orangtua mengirim anaknya untuk les musik atau les menggambar padahal mereka tidak punya bakat?
Tidak ada salahnya anak belajar musik dan menggambar, meskipun mereka tidak memiliki bakat. Dan pada dasarnya kita tidak pernah tahu apa anak itu punya bakat atau tidak sampai kita mencoba. Kenyataan bahwa orangtua mereka bukan seniman bukan berarti anak mereka tidak punya bakat seni.
Itu karena pendidikan seni kita yang salah. Seni selalu diartikan sebagai kemampuan menggambar, paling tidak pada jaman saya sekolah dulu.
Selama puluhan tahun saya tidak pernah tahu bahwa saya adalah seorang yang kreatif, karena seingat saya kalau pelajaran menggambar dulu, saya hanya bisa menggambar gunung dan laut. itu saja. Demikian seni tari, saya tidak bisa menari. Tubuh saya kaku dan tidak rhtymic.
Sampai saat ini saya mendapati bahwa kreatifitas itu bukan hanya menyangkut kemampuan seni. Kreatifitas itu adalah kemampuan menghasilkan ide, kemampuan untuk sintesis informasi, inovasi dan invention.
Dan untuk seni, tidak semua seniman itu adalah producer, tapi banyak orang yang menjadi seniman konsumer. Mereka menikmati seni. Membeli lagu, membeli lukisan mahal, justru karena mereka bisa mengapresiasi seni. Jika semua seniman adalah producer, hasil karya mereka tidak akan laku.
Semua orang adalah kreatif, tinggal bagimana cara kita mengembangkannya, benar tidak anggapan ini?
Ini pernyataan sama dengan "setiap orang inteligen". Jika setiap orang kreatif, maka kreatifias itu tidak ada lagi artinya. Jika setiap orang inteligen, maka tidak perlu ada kata inteligen. Manusia adalah makhluk inteligen karena kemampuan kita untuk berpikir komplex, tapi tidak semua orang memiliki inteligensi yang setara. Kita mengakui bahwa ada kondisi seperti mental retardation demikian juga ada kondisi seseorang yang highly intelligent atau gifted. Pola yang sama bisa kita pakai pada kreatifitas.
Mungkin yang dimaksudkan adalah semua orang itu berbeda, unique. Itu benar. Tapi apakah menjadi berbeda itu berarti kreatif? Bukan seperti itu kan?
Namun sama dengan inteligensi ada continuum dalam kreatifitas, kreatiftas rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi bahkan sangat sangat tinggi. Selain itu setiap individu memiliki area kreatifitas yg berbeda2- Jadi kreatifitas ini sangat luas.
Apa hubungan antara kreatifitas dan inteligensi?
Kreatiftas dan inteligensi adalah kumpulan traits atau karakteristik. Semua orang yang high intelligent adalah juga orang kreatif (Renzulli). Pada ambang batas tertentu tidak ada bedanya menjadi inteligen dan kreatif (IQ 120). Namun seseorang tidak perlu menjadi high intelligent untuk menjadi kreatif terutama kreatifitas di bidang seni (musik, menyanyi, dll).
Mereka yang outstanding hanya pada satu area tertentu sering disebut "talented"
Bagaimana kita mengukur kreatifitas?
Ada alat ukur atau assessment.
Tapi alat ukur yang paling gampang adalah portfolio. Karya-karya seorang yang kreatif sangat nyata, seringkali sudah bisa dispot sejak kanak-kanak. Berbeda dengna mereka yang intellectual; thinker atau philosopher, seringkali hasil pemikiran mereka menerima recognition setelah mereka lanjut usianya. Contohnya seperti para penerima Nobel Prize, biasanya mereka yang sudah lanjut usianya.
Apa contoh kreatifitas dari murid2 di Noble yg tdk dimiliki orang pelajar seusia mereka?
Contoh : ide renewable energy, mereka menciptakan ide tentang renewable energi dengan menggunakan car power. Mereka juga mencari ide untuk sustainable city yang sesuai dengan kondisi Jakarta. Ada juga yang mencari solusi untuk mengurangi korban tusnami. Dipicu oleh concern dengan banyaknya korban tsunami saat tragedi Palu, dan bagaimana masyarakat kita tidak siap sehingga korbannya banyak, anak-anak ini memikirkan solusi.
Banyak lagi ide-ide yang mereka pikirkan untuk solusi berangkat dari problem yang mereka lihat di masyarakat.
Orang kreatif itu sering moody, benar gak seperti itu? Mengapa?
Bukan hanya moody banyak orang highly creative dan highly intelligent seperti “manic depressive.” Ini karena faktor yang disebut overexcitablity atau supersensitivity, theory yang diperkenalkan oleh Psikolog Polandia Kazimierz Dabrowski. Dabrowski menyebut ada 5 area intensitas pada highly gifted people: yaitu, intellectual, emotional, imaginational, sensual dan psychomotor.
Karena intensitas ini membuat seseorang sering overwhelming dengan dirinya sendiri. Contoh, papa saya seseorang yang memiliki intensitas intelektual yang tinggi, jika sedang belajar sesuatu bisa tidak tidur berhari-hari. Asyikk gitu. Rasa ingin tahu membuat ia bisa bertahan tidak tidur bahkan lupa makan. Tapi kemudian secara fisik tidak tahan, sehingga setelah masa itu lewat tubuhnya jadi lemas, jatuh sakit.
Itu sebabnya perlu bagi orang yang kreatif untuk mengerti self- regulation. Untuk mengontrol emosi atau intensitas feelingnya. Build good habit, healthy relationship, healthy lifestyle, balance our life.
Ini juga yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita sejak kecil. Banyak anak gifted yang tidak mengerti apa yang terjadi didirinya.
Okay gak kita mengatakan anak bahwa ia gifted?
Menurut saya okay saja, tertutama untuk alasan ini. Supaya mereka bisa belajar self-regulation.
Contoh anak saya punya overexcatibility dalam intellectual dan imaginational, ide-idenya tidak pernah berakhir, ia kesulitan tidur, imajinasinya sangat vivid. Siang hari sering menghayal dan absent-minded. Ia mengaku, bahwa sering dalam kepalanya ia bermain game.
Satu-satunya cara untuk membuat ia aware adalah dengan mengajarinya bahwa itu adalah signs dari overexcatibility. (Supersensitivity terhadap stimuli, overreaction terhadap stimuli). Dengan kemampuan imajinatif seperti ini dia bisa menciptakan banyak hal, bisa menulis buku, bisa menciptakan game yang baru, bisa punya ide untuk riset bagi kemanusiaan, dan macam-macam.
Tapi kemampuan yang sama tanpa diregulasi akan juga menghantui dan mengganggu, sehingga efeknya adalah negatif.
Apa ada hubungan kreatifitas dengan kesusksesan?
Tergantung dari cara kita mendefinisikan apa itu sukses? Atau high achievement?
Masalahnya, orang-orang highly creative atau highly intelligent memiliki perpective yang berbeda tentang kesuksesan dan pencapaian. Seringkali apa yang mereka cari bukan hal-hal materi.
Contohnya, apakah Mozart seorang yang sukses atau tidak? Mostly kita akan berkata bahwa Mozart adalah seorang yang sukses, tapi selama hidup bahkan sampai mati ia ada dalam kemiskinan. Karyanya baru diapresiasi orang lama setelah ia tiada.
Banyak karya seni baik musik, lukisan, tulisan yang menjadi populer ketika penciptanya sudah tiada, apakah mereka sukses? Apakah mereka bisa disebut high achiever?
Kalau kita ukur sukses dari materi tentu banyak sekali orang kreatif yang tidak sukses. Tapi kalau kita ukur sukses dan kontribusi kita kepada kemanusiaan, maka banyak orang kreatif yang selama hidupnya miskin adalah pahlawan.
Bagaimana bisa orang kreatif tapi juga bisa make money?
Karena motivasi kebanyakan orang kreatif bukan materi, banyak orang kreatif tdk tahu making money. They enjoy create things. Karena untuk making money ada banyak skills lain yang dibutukan. Bukan hanya kemampuan inovasi hal-hal baru dan spektakuler, tapi juga kemampuan selling the idea. Marketing and communication skills, totally different set of skills. Dan ini tidak gampang.
Banyak orang gifted dan intelligent yang inventing innovative idea atau theory yang selama hidupnya sibuk mengembangkan ide dan teori, sehingga tidak punya kesempatan untuk selling dan making money.
Ini adalah peran stakeholders; pemerintah, parents, agen pencari bakat, promotor atau investor yang harus jeli mencari ide-ide fresh dan innovative.
Di Noble Academy, kami mengajarkan anak-anak untuk mengembangkan communication skills lewat public speaking. Jadi tidak seperti dugaan orang, anak gifted itu weird atau awkward di depan orang banyak, tidak. Mereka juga mampu untuk mengkomunikasikan ide mereka secara efektif.
Bagaimana mengembangkan kreatifitas di anak-anak? Apa program atau methodologynya?
Kita tidak bisa mengajar anak-anak untuk kreatif sama seperti kita tidak bisa mengajar anak untuk inteligen. Itu sudah ada dalam mereka. Kita membantu mereka untu mengembangkan dan melatih mereka untuk meregulasinya. Caranya, dgn menciptakan lingkungan untuk kreatifitas itu berkembang. Karena anak2 otaknya msh berkembang kita juga membantu dengan structure. Walau kreatif tidak diajarkan tapi habit bisa diajar. Mereka diajarkan untuk build habit dan discipline.
Di Noble Academy, semua set of personality ini kita kembangkan lewat Social Emotional Education atau Affective Learning. Saya sangat setuju jikalau character building menjadi subject utama di sekolah-sekolah.
Karena kita mau anak-anak kita suskes bukan hanya mereka sudah tiada, tapi karya mereka juga bisa dinikmati banyak orang semasa mereka hidup. Untuk bisa mencapai kesana, di lautan ide dan pasar yang sangat kompetitif ada set of personality yang akan mengubah giftedness menjadi high achievement, yaitu, Grit.
Jadi di Noble Academy is the Place Where Gift and Grit Grow
Apakah teknologi membuat anak kreatif atau tidak?
Teknologi adalah alat. Kita hanya memanfaatkan alat yang ada untuk bukan hanya memudahkan proses pembelajaran tapi, untuk membuat anak-anak belajar lebih efektif.
Karena fungsinya sebagai alat, maka teknologi bisa meningkatkan atau malah menghambat kreatifitas. Itu bergantung pada yang memakainya.
Contohnya, penulis, pelukis, luar biasa jaman lampau tidak punya teknologi. Bahkan penulis seperti Jane Austen jarang keluar rumah, tapi imajinasinya bisa kemana-mana.
Creativity and constraints adalah kawan akrab.
Ada waktunya di rumah, saya turn off semua screen dan berkata pada anak saya "c'mon lets get bored" Karena dari boredom ini mereka akhirnya mencari jalan untuk menghibur diri, yang pada akhirnya menuntun mereka untuk menciptakan sesuatu.

Comments