MENGENAL KESULITAN TERSEMBUNYI INDIVIDU GIFTED
- nancy dinar
- Mar 18
- 3 min read
Ketika berpikir tentang individu gifted, kita sering membayangkan para genius yang unggul tanpa usaha dalam bidang akademik, seni, atau inovasi. Bakat yang menonjol kerap membedakan mereka dari rekan-rekannya. Namun, di balik kecerdasan tinggi dan kemampuan luar biasa tersebut terdapat banyak tantangan yang sering kali diabaikan. Giftedness bukan hanya sekadar kecerdasan intelektual—tetapi juga menyangkut kompleksitas emosional, tantangan sosial, dan beban psikologis yang sering tidak disadari banyak orang.
Intensitas Emosional dalam Giftedness
Individu gifted mengalami intensitas emosi yang sangat kuat. Hal ini dapat bermanifestasi dalam bentuk empati yang ekstrem, perfeksionisme, dan rasa keadilan yang tinggi. Sifat-sifat ini bisa menjadi kekuatan, namun secara bersamaan juga dapat menyebabkan kelelahan emosional, kecemasan, dan perasaan tidak dipahami.
Banyak anak dan orang dewasa gifted mengalami krisis eksistensial sejak usia dini. Mereka merenungkan secara mendalam pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, kematian, dan tujuan hidup yang mungkin tidak dipahami oleh orang lain. Pemikiran ini dapat membebani mereka secara emosional dan mental, terutama jika tidak ada dukungan atau pemahaman dari lingkungan sekitar.
Beban Karena Berbeda di Lingkup Sosial
Individu gifted sering merasa out of sync dengan teman sebayanya. Pemikiran maju dan perspektif unik mereka dapat membuat interaksi sosial menjadi sulit. Pada masa kanak-kanak, mereka mungkin kesulitan berinteraksi dengan teman sekelas yang tidak memiliki rasa ingin tahu dan tingkat intelektual yang sama. Hal ini dapat menyebabkan perasaan terisolasi dan terpinggirkan.
Ketika dewasa, mereka mungkin terus merasa seperti outsider—kesulitan menemukan orang yang benar-benar dapat memahami kedalaman pemikiran dan intensitas mereka. Kondisi ini bisa membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial dan memilih untuk hidup dalam dunia pemikiran mereka sendiri.
Perfeksionisme dan Takut akan Kegagalan
Banyak individu gifted menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri. Perfeksionisme mereka bisa melumpuhkan, membuat mereka takut mengambil risiko atau mencoba hal baru karena takut gagal. Self-criticism yang tak henti-hentinya ini dapat menyebabkan prokrastinasi, kecemasan, dan bahkan kelelahan mental.
Alih-alih merayakan pencapaian, mereka justru fokus pada kekurangan-kekurangan yang akhirnya menghasilkan rasa ketidakpuasan kronis dan keraguan diri. Padahal, perfeksionisme yang sehat—atau yang disebut striving for excellence—sebenarnya dapat menjadi dorongan positif jika dikendalikan dengan tepat.
Perjuangan Tersembunyi Individu Dua Kali Istimewa
Individu dua kali istimewa (twice exceptional) adalah mereka yang gifted namun juga memiliki disabilitas belajar atau kondisi neurodivergent seperti ADHD, disleksia, atau autisme. Mereka menghadapi tantangan unik karena kemampuan luar biasa mereka sering kali menutupi kesulitan yang ada, sehingga menyebabkan kesalahan diagnosa atau kurangnya dukungan yang tepat.
Sekolah dan tempat kerja sering mengabaikan konflik tersembunyi ini, sehingga mereka terpaksa berjuang dalam sistem dan lingkungan yang tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dukungan yang tepat sangat dibutuhkan agar mereka dapat berkembang tanpa terbebani oleh permasalahan ganda.

Kesehatan Mental dan Kebutuhan Akan Dukungan
Individu gifted memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan krisis eksistensial. Pemikiran yang mendalam dan intensitas emosional mereka kadang-kadang dapat menyebabkan perasaan kesepian dan keputusasaan yang luar biasa.
Sangat penting untuk memberikan mereka dukungan emosional, bimbingan, dan kesempatan untuk terhubung dengan individu sepadan yang memahami pengalaman mereka. Selain itu, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental pada individu gifted harus ditingkatkan agar mereka merasa dihargai dan diterima secara utuh.
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung
Mengenali perjuangan tersembunyi individu gifted adalah langkah pertama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung. Guru, orang tua, dan pemberi kerja sebaiknya:
• Mendorong resiliensi emosi dan penerimaan diri.
• Memberikan kesempatan untuk ekspresi intelektual dan kreatif.
• Menawarkan bimbingan dan koneksi dengan individu gifted lainnya.
• Mempromosikan growth mindset dan menghargai usaha daripada hasil yang sempurna.
• Mengatasi kebutuhan kesehatan mental individu gifted dengan sumber daya dan intervensi yang sesuai.
Kesimpulan
Giftedness adalah pedang bermata dua—di satu sisi berupa kemampuan luar biasa, di sisi lain ada tantangan yang harus diakui dan ditangani. Dengan memahami dan mendukung individu gifted secara holistik, kita dapat membantu mereka berkembang tidak hanya dalam bakat mereka tetapi juga dalam kesejahteraan emosional dan psikologis mereka.
Comments